Teknologi RAID
Di
sesi ini saya akan membagi pengalaman dan pengetahuan mengenai server tentang
bagaimana mengkonfigurasi RAID pada serve.
Pada
PC Desktop atau Notebook sering kita jumpai single hard disk terpasang,
meskipun ada lebih dari satu terpasang tetapi hanya digunkan sebaga penambahan hard
disk sehingga tempat penyimpanan data bertambah. Lain halnya untuk server
yang mempunyai karakteristik utama yaitu tidak boleh mati karena jika mati
komputer klien yang menggunakan aplikasi yang terhubung dengan server tersebut
akan terputus total. Selain itu data yang tersimpan pada server sangat penting,
sehingga diperlukan suatu solusi agar data tidak hilang dikarenakan hard
disk yang bermasalah, salah satu solusi selain melakukan backup data
secara manual maupun otomatis adalah dengan menggunakan sistem RAID.
RAID
merupakan kependekan dari Redundant Array of Inexpensive Disk dimana
menggunakan lebih dari satu hard disk yang bekerja sama untuk memperoleh
kinerja yang lebih dibanding menggunakan satu hard disk dan yang paling
penting adalah memiliki redundant dimana jika ada hard disk yang
bermasalah (mati) data tidak akan hilang . Beberapa RAID yang umum digunakan
adalah RAID 0,1,5,6,10,1E.50 dan 60.
Raid 0 (Stripping)
Minimal
menggunakan 2 hard disk identik.
Cara kerja : Keseluruhan
hard disk yang dimiliki akan berfungsi sebagai tempat penyimpanan data.
Data dipecah (striped) menjadi beberapa blok data dan masing masing blok
disimpan pada anggota dari RAID 0 pada hard disk yang berbeda.
Contoh : 2 hard
disk berkapasistas 250GB dikonfigurasi dengan RAID 0 maka total hard
disk yang dapat dijadikan penyimpanan data adalah keseluruhannya ( 500GB)
Kelebihan
: Dengan RAID 0, kapasistas hard disk yang dimiliki untuk penyimpanan
data adalah total dari keseluruhan hard disk yang dimiliki, tanpa ada
pengurangan, proses penyimpanan dan pembacaan data lebih cepat karena data
dipecah (striped) dan setiap blok data disimpan pada hard disk
yang berbeda.
Kekurangan :
Jika salah satu hard disk bermasalah atau rusak, maka data akan hilang
tanpa ada penggantinya karena kehilangan beberapa blok data, menyebabkan data
tidak utuh lagi.
RAID 1
Minimal menggunakan 2 hard disk yang identik
Cara kerja
: Separuh dari jumlah hard disk yang diposisikan sebagai RAID 1
digunakan sebagai mirror. Dengan kata lain bahwa hanya satu hard disk
sebagai penyimpanan data, yang lain berfungsi sebagai mirror atau backup
data dari hard disk lainnya.
Contoh : Dua
hard disk berkapasitas 250GB dikonfigurasikan dengan RAID 1, maka hanya
satu hard disk ( 250 GB) yang dapat digunakan sebagai penyimpanan data,
hard disk yang lain (250 GB) diugunakan sebagai mirror atau backup.
Kelebihan : Jika
salah satu hard disk yang berfungsi sebagai penyimpanan data bermasalah,
maka hard disk mirror akan secara otomatis menggantikan hard
disk yang rusak atau bermasalah, data tetap utuh.
Kekurangan : RAID 1 bisa dikatakan MAHAL, karena hanya setengah dari
jumlah hard disk yang dimiliki yang dapat dijadikan tempat penyimpanan
data.
RAID 2
Raid juga menggunakan sistem stripping. Namun ditambahkan tiga
harddisk lagi untuk pariti hamming, sehingga data menjadi lebih reliable.
Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal 5 (n+3, n > 1).
Ketiga harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan hamming code dari hasil
perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.
Contoh:
Kita memiliki 5 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, D, dan E) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 2, maka kapasitas yang didapat adalah: 2 x 40GB = 80GB (dari harddisk A dan B). Sedangkan harddisk C, D, dan E tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi pariti hamming dari dua harddisk lainnya: A, dan B. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A atau B), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan pariti kode hamming yang ada di harddisk C, D, dan E.
Kita memiliki 5 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, D, dan E) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 2, maka kapasitas yang didapat adalah: 2 x 40GB = 80GB (dari harddisk A dan B). Sedangkan harddisk C, D, dan E tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi pariti hamming dari dua harddisk lainnya: A, dan B. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A atau B), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan pariti kode hamming yang ada di harddisk C, D, dan E.
RAID 3
Raid 3 juga menggunakan sistem stripping. Juga menggunakan
harddisk tambahan untuk reliability, namun hanya ditambahkan sebuah harddisk
lagi untuk parity.. Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal
3 (n+1 ; n > 1). Harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan parity dari
hasil perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.
Contoh kasus:
Kita memiliki 4 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, dan D) dengan
ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat
harddisk tersebut dengan RAID 3, maka kapasitas yang didapat adalah: 3 x 40GB =
120GB. Sedangkan harddisk D tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan
hanya untuk menyimpan informasi parity dari ketiga harddisk lainnya: A, B, dan
C. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A, B, atau
C), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan parity yang ada di
harddisk D. Namun, jika harddisk D yang mengalami kerusakan, maka data tetap
dapat dibaca dari ketiga harddisk lainnya.
RAID 4
Raid 4 Sama dengan sistem RAID 3, namun menggunakan parity dari
tiap block harddisk, bukan bit. Kebutuhan harddisk minimalnya juga sama, 3 (n+1
; n >1).
RAID 5
Minimum hard disk adalah 3 identik.
Cara kerja : Data
disebar pada masing-masing hard disk dan masing masing hard disk
terdapat sebuah parity yang bisa dianalogikan sebagai image
dari masing-masing blok data hard disk lainnya. Efisiensi penyimpanan
data menggunakan 3 hard disk adalah 66.7%, bila menggunakan empat hard
disk efisiensi menjadi 75%
Contoh : Tiga
hard disk berkapasitas 250GB dikonfigurasi RAID 5 maka kapasitas yang
dapat digunakan untuk penyimpanan data adalah 500GB ((66.7/100 )x 750GB), sisa
kapasitas yang tidak terdeteksi digunakan untuk penyimpanan parity.
Kelebihan
: Memiliki performa read yang bagus dan performa write yang bagus
pada mode write back.
Kekurangan :
Penulisan data lebih lambat dibanding RAID 0 dan RAID 1 bila pada mode write
through. Hanya memperbolehkan satu hard disk gagal.
RAID 6
Cara
kerja : Data disebar pada empat hard disk
dan masing masing hard disk terdapat dua parity yang bisa
dianalogikan sebagai image dari masing-masing blok data hard disk
lainnya. Efisiensi penyimpanan data menggunakan empat hard disk adalah
50%, bila menggunakan delapan hard disk efisiensi menjadi 75%.
Contoh
: empat hard disk berkapasitas
250GB dikonfigurasi RAID 6 maka kapasitas yang dapat digunakan untuk
penyimpanan data adalah 500GB ((50/100 )x 1000GB), sisa kapasitas yang tidak
terdeteksi digunakan untuk penyimpanan parity.
Kelebihan : Memiliki performa read yang bagus dan performa write
yang bagus pada mode write back (masih dibawah RAID 5). Mengijinkan dua hard
disk gagal.
Kekurangan
: Penulisan data lebih lambat
dibanding RAID 0 dan RAID 1 dan RAID 5 bila pada mode write through.